Welcome

Selamat Datang di Blog Pendidikan Vokasional Konstruksi Bangunan

10.11.2010

Motivasi Itu Perlu

Memang, ini sangat diperlukan apalagi terkait dengan proses pembelajaran!.

Melihat-lihat file semester lalu mengenai TBP (Teori Belajar Pembelajaran), mudah-mudahan dapat memotivasi kita semua.

I. PENDAHULUAN
Pengajaran tradisional menitikberatkan pada metode imposisi, yakni pengajaran dengan cara penuangan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi siswanya. Cara ini tidak mempertimbangkan kesesuaian bahan pelajaran dengan kesanggupan, kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan serta pemahaman siswa. Guru tidak memperhatikan motivasi siswa untuk mempelajari bahan-bahan yang disampaikan.
Temuan-temuan baru dalam bidang psikologi kepribadian dan tingkah laku manusia, serta perkembangan di bidang ilmu pendidikan pada gilirannya mengubah pandangan tersebut. Faktor peserta didik dianggap sebagai sesuatu yang menentukan pelaksanaan dan keberhasilan proses pembelajaran. Pandangan baru berpendapat, bahwa tingkah laku manusia disorong oleh motif-motif tertentu. Perbuatan belajar akan berhasil bila berdasarkan motivasi pada diri siswa. Siswa mungkin dapat dipaksa untuk melakukan suatu perbuatan, tetapi ia tak mungkin dapat dipaksa untuk menghayati perbuatan itu sebagaimana mestinya. Guru dapat memaksakan bahan pelajaran kepada siswa, tetapi tak mungkin memaksanya untuk belajar dalam arti sebenarnya. Ini berarti, tugas guru yang paling berat ialah berupaya agar siswa mau belajar dan memiliki keinginan belajar terus menerus.
II. MOTIVASI
II.1 Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti “menggerakkan”. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi menjadi berkembang. Cropley (1985) menjelaskan bahwa motivasi adalah tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme.
Sedangkan McDonald (1959) merumuskan bahwa . . . .“Motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction”, yang diartikan, bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan . Gray lebih suka menyebut pengertian motivasi sebagai sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
Imron (1996) menjelaskan bahwa motivasi berasal dari bahasa Inggris motivation yang berarti dorongan pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti mendorong, menyebabkan, dan merangsang. Motive berarti alasan, sebab dan daya penggerak. T. Hani Handoko mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
II.2 Jenis Dan Sumber Motivasi
Motivasi ada dua jenis, yaitu motivasi intristik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu itu sendiri sehingga sering disebut juga sebagai “motivasi murni”, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi atau dorongan yang ada pada diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Namun dorongan tersebut datang dari luar individu yang bersangkutan. Jadi orang itu dirangsang dari luar.
Motivasi ekstrinsik diterapkan oleh sekolah karena dalam interaksi belajar mengajar siswa kadang sering tidak menaruh minat dan perhatian terhadap suatu kegiatan yang sedang berlangsung. Oleh sebab itu di dalam kegiatan interaksi belajar, guru dalam hal ini memegang peranan sangat penting dalam upaya menumbuhkan serta meningkatkan motivasi ekstrinsik siswa secara menyeluruh. Dengan demikian siswa akan lebih aktif berperan serta berpartisipasi positif di dalam kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Mengingat motivasi ekstrinsik ini terjadi karena rangsangan dan pengaruh dari luar diri siswa. Maka guru selayaknya untuk selalu memanfaatkan media dan model pembelajaran yang bervariasi dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian jelas siswa akan lebih tumbuh serta berkembang dalam upayanya mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa dibarengi usaha guru yang keras, maka kegiatan belajar mengajar hanya berlangsung jika guru selalu tatap muka, selebihnya siswa akan selalu bersikap pasif.
Motivasi intrinsik dalam realitasnya lebih memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding motivasi ekstrinsik. Hal ini terjadi karena karena faktor ekstrinsik bisa saja justru mengakibatkan daya motivasi individu berkurang ketika faktor ekstrinsik tersebut mengecewakan seorang individu.
Menurut teori kebutuhan Abraham Harold Maslow (1908 – 1970) yang menjadi sumber motivasi seseorang adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu, menurut Maslow jika kebutuhan yang lebih rendah tingkatannya telah dipenuhi, maka kebutuhan yang berada di tingkatan atasnya akan muncul dan minta dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan yang menuntut pemenuhan tersebut dipandang sebagai motivator akrif. Sementara kebutuhan di tingkatan atasnya menjadi strongest need. Oleh karena itu, kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut secara berjenjang dan secara terus-menerus minta dipenuhi. Menurut Maslow, ada lima kebutuhan dasar manusia. Kelima kebutuhan tersebut adalah :
1. Kebutuhan fisiologis (physiological needs)
2. Kebutuhan keamanan dan rasa terjamin (safety or security needs)
3. Kebutuhan sosial (social needs)
4. Kebutuhan ego (esteem needs)
5. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization).
Kebutuhan-kebutuhan tersebut menurut Maslow harus terpenuhi, sebab kebutuhan yang telah lama tidak terpenuhi, tidak dapat menjadi active motivator. Jika kebutuhan tersebut terblokade dan tidak dapat menjadi active motivator, maka usaha manusia hanya bertahan pada level sebelumnya, dan tidak ada peningkatan. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan merupakan hal penting untuk meningkatkan motivasi seseorang termasuk dalam konteks motivasi belajar. Seseorang yang lama kebutuhannya tidak terpenuhi, bisa menjadi penyebab timbulnya sikap-sikap destruktif, menentang, dan bahkan frustasi.
Tetapi pertanyaan mendasar adalah apakah kebutuhan tentang ego/ harga diri harus menunggu kebutuhan fisik dan rasa aman lebih dahulu? Padahal setiap individu dari strata apapun harga diri ditempatkan sebagai unsur yang utama. Itulah hakekat dari pengertian manusiawi. Jangan hanya gara-gara kebutuhan fisik yang belum terpenuhi maksimum lalu harga diri terkorbankan. Kalau begitu apakah tidak sepantasnya pada setiap hirarki  kebutuhan individu, dasar utamanya terletak pada harga diri itu sendiri?
Maslow sendiri dalam tahun-tahun terakhirnya merevisi teorinya tersebut (Stephen R.Covey dalam bukunya First Things First). Katanya,  Maslow mengakui bahwa aktualisasi diri bukanlah kebutuhan tertinggi namun masih ada lagi yang lebih tinggi yaitu self transcendence yaitu hidup itu mempunyai suatu tujuan yang lebih tinggi dari dirinya. Mungkin yang dimaksud Maslow adalah kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama. Sekarang lebih dikenal sebagai kebutuhan spiritual.
II.3 Peran dan Fungsi Motivasi Dalam Belajar dan Pembelajaran
Secara umum terdapat dua peranan penting motivasi dalam belajar, pertama, motivasi merupakan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai satu tujuan. Kedua, motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar, sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Motivasi sangat diperlukan dalam proses belajar. Motivation is an essential condition of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi:
Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
Menetukan arah perbuatan, yakni arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
Meneyeleksi perbuatan, yakni menetukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagia tujuan tersebut. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakuakan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Beberapa penelitian tentang prestasi belajar siswa menunjukan motivasi sebagai faktor yang banyak berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Tokoh–tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977), Bloom (1980), Weiner (1986), Fyans dan Maerh (1987) melakukan berbagai penelitian tentang peranan motivasi belajar, dan menemukan hasil yang menarik. Sebagai contoh, dalam studi yang dilakukan Fyans dan Maerh (1987) diantara 3 faktor, yaitu : latar belakang keluarga, kondisi/konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan prediktor yang paling baik untuk prestasi belajar. Walberg dkk (1983) menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan Suciati (1990) menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen, sedangkan McClelland menunjukan bahwa motivasi berprestasi (achievment motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar. Berdasarkan penemuan di atas guru dapat mempertimbangkan untuk melakukan intervensi dalam hal meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
II.4 Model Motivasi ARCS
ARCS adalah sebuah model desain instruksional yang dikembangkan oleh John Keller (1983) dan berfokus pada motivasi. ARCS merupakan singkatan dari Attention (perhatian), Relevance (relevansi), Confidence (kepercayaan diri), Satisfaction (kepuasan). Dalam proses belajar dan pembelajaran keempat kondisi motivasional tersebut sangat penting dipraktekkan untuk terus dijaga sehingga motivasi siswa terpelihara selama proses belajar dan pembelajaran berlangsung.
II.4.1 Perhatian (Attention)
Perhatian siswa muncul didorong rasa ingin tahu. Oleh sebab itu rasa ingin tahu ini perlu mendapat rangsangan, sehingga siswa akan memberikan perhatian, dan perhatian tersebut terpelihara selama pembelajaran, bahkan lebih lama lagi. Rasa ingin tahu ini dapat dirangsang atau dipancing melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks. Apabila elemen–elemen seperti ini dimasukan dalam rencana pembelajaran, hal ini dapat menstimulir rasa ingin tahu siswa. Namun perlu diperhatikan agar stimulus tersebut digunakan tidak berlebihan, akibatnya stimulus menjadi hal yang biasa dan efektifitasnya hilang. Strategi untuk merangsang minat dan perhatian siswa :
1. Gunakan metode penyampaian pembelajaran yang bervariasi (ceramah, kelompok diskusi, bermain peran, simulasi, curah pendapat, demonstrasi, studi kasus dan lain–lain).
2. Gunakan media (multimedia interaktif, power point, film, video, dan sebagainya) untuk melengkapi penyampaian perkuliahan.
3. Bila dirasa tepat gunakan humor dalam presentasi pembelajaran.
4. Gunakan peristiwa nyata, anekdot dan contoh–contoh untuk memperjelas konsep.
5. Gunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa.
II.4.2 Relevansi (Relevance)
Relevansi menunjukan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Motivasi siswa akan terpelihara apabila mereka menganggap apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi, atau bermanfaat atau sesuai dengan nilai yang dipegang. Kebutuhan pribadi (basic needs) dikelompokan ke dalam 3 kategori yaitu motif pribadi, motif instrumental dan motif kultural. Yang pertama, nilai motif pribadi (personal motive value) mencakup tiga hal, yaitu :
Kebutuhan untuk berprestasi (needs for achievment),
Kebutuhan untuk memiliki kuasa (needs for power), dan
Kebutuhan untuk berafilisasi (needs for affiliation).
Yang kedua adalah nilai yang bersifat instrumental, di mana keberhasilan dalam mengerjakan suatu tugas dianggap sebagai langkah untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut. Ketiga, nilai kultural, apabila tujuan yang ingin dicapai konsisten atau sesuai dengan nilai yang dipegang oleh kelompok yang diacu siswa, seperti orang tua, teman, dsb. Strategi untuk menunjukan relevansi pembelajaran :
1. Sampaikan kepada siswa apa yang akan dapat mereka lakukan setelah mempelajari materi pelajaran. Ini berarti guru harus menjelaskan tujuan pembelajaran atau indikator pembelajaran yang ingin dicapai.
2. Jelaskan manfaat pengetahuan atau ketrampilan yang akan dipelajari dan bagaimana hal tersebut dapat diterapkan dalam pekerjaan nanti.
3. Berikan contoh, latihan atau tes yang langsung berhubungan dengan kondisi siswa atau profesi tertentu
II.4.3 Percaya Diri (Confidence)
Merasa diri kompeten atau mampu,merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Bandura (1977) mengembangkan lebih lanjut konsep tersebut dengan mengajukan konsep self-efficacy. Konsep tersebut berhubungan dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan. Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa motivasi akan meningkat sejalan dengan menigkatnya harapan untuk berhasil. Harapan ini sering dipengaruhi oleh pengalaman sukses di masa yang lampau. Dengan demikian ada hubungan spiral antara pengalaman sukses dan motivasi. Motivasi dapat menghasilkan ketekunan yang membawa keberhasilan (prestasi), dan selanjutnya pengalaman sukses tersebut akan memotivasi siswa untuk mengerjakan tugas berikutnya. Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri :
1. Meningkatkan harapan siswa untuk berhasil dengan memperbanyak pengalaman berhasil siswa, misalnya dengan mendesain pembelajaran agar dengan mudah dipahami, diurutkan dari materi yang mudah ke yang sukar. Dengan demikian siswa merasa mengalami keberhasilan sejak awal pembelajaran.
2. Organisasikan pembelajaran ke dalam bagian–bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak dituntut untuk mempelajari terlalu banyak konsep baru sekaligus
3. Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan menyatakan persyaratan untuk berhasil. Hal ini dapat dilakukan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan kriteria tes atau ujian pada awal pembelajaran. Hal tersebut akan membantu siswa mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang diharapkan.
4. Meningkatkan harapan untuk berhasil dengan menggunakan strategi yang memungkinkan kontrol keberhasilan di tangan siswa sendiri. Kontrak belajar (learning contract) merupakan hal yang harus dilakukan oleh guru dengan siswa. Kontrak belajar hendaknya dengan jelas mencantumkan strategi perkuliahan dan kriteria untuk menentukan berhasil atau tidaknya siswa.
5. Tumbuh kembangkan kepercayaan diri siswa dengan mengatakan ”Sepertinya kamu telah memahami konsep ini dengan baik”, serta menyebut kelemahan siswa sebagai ”hal -hal yang masih perlu dikembangkan.”
6. Berikan umpan balik yang konstruktif selama pembelajaran agar siswa mengetahui tingkat pemahaman dan prestasi belajar mereka sejauh ini.

II.4.4 Kepuasan (Satisfaction)
Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa. Kepuasan karena mencapai tujuan dipengaruhi oleh konsekuensi yang diterima, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri siswa. Sebagai contoh, dalam kelas Komunikasi, siswa diuji kemampuanya berpidato. Setelah selesai berpidato, siswa merasa puas dan lega karena ternyata dia tidak pingsan seperti yang dikhawatirkanya. Tetapi beberapa saat kemudian konsekuensi dari luar (dari guru) membuatnya merasa malu dan kecewa. Guru mengatakan dia nampak tegang, suaranya hampir tidak terdengar, dan jelas kelihatan tidak berlatih sebelumnya. Dalam hal ini terjadi konflik dalam diri siswa tersebut, dan membuat kepuasaannya hilang. Peran guru sangat penting dalam menumbuhkan kepuasan belajar siswa. Untuk meningkatkan dan memelihara motivasi siswa guru dapat menggunakan pemberian penguatan (reinforcement) barupa pujian, pemberian kesempatan, dan sebagainya. Strategi untuk meningkatakan kepuasan :
1. Gunakan pujian secara verbal dan umpan balik yang informatif, bukan ancaman atau sejenisnya.
2. Berikan kesempatan kepada siswa untuk segera menggunakan atau mempraktikkan pengetahuan yang baru dipelajari
3. Minta kepada siswa yang telah menguasai suatu keterampilan atau pengetahuan untuk membantu teman–temannya yang belum berhasil.
4. Bandingkan prestasi siswa dengan prestasinya sendiri di masa lalu atau dengan suatu standar tertentu, bukan dengan siswa lain.
II.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Dalam buku belajar dan pembelajaran Ali Imron (1996) mengemukakan ada enam unsur atau faktor yang mempengaruhi motivasi dalam proses pembelajaran. Keenam faktor tersebut adalah :
1. Cita-cita atau aspirasi pembelajar
Cita-cita merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Hal ini bisa diamati dari banyaknya kenyataan motivasi seorang pemelajar menjadi begitu tinggi ketika ia sebelumnya sudah memiliki cita-cita.
2. Kemampuan pemelajar
Manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, karena itu sering terlihat seseorang memiliki kemampuan di bidang tertentu belum tentu memiliki kemampuan di bidang lainnya.
3. Kondisi pemelajar
Hal ini bisa terlihat dari kondisi fisik maupun kondisi psikis pemelajar. Pada kondisi fisik ada hubungannya dengan motivasi bisa dilihat dari keadaan fisik seseorang. Apabila kondisi psikis seseorang sedang tidak bagus maka motivasi pun akan menurun.
4. Kondisi lingkungan pemelajar
Kondisi lingkungan pemelajar menjadi factor yang mempengaruhi motivasi bisa diamati dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang mengitari si pembelajar.
5. Unsur-unsur dinamis belajar atau pembelajaran
Faktor dinamisasi belajar dapat diamati pada sejauh mana upaya memotivasi si pemelajar dilakukan, bagaimana juga dengan bahan pelajaran, alat bantu belajar, suasana belajar dan sebagainya.
6. Upaya guru dalam membelajarkan pemelajar
II.6 Upaya-Upaya Memotivasi Dalam Belajar
Ali Imron (1996) mengemukakan ada empat upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi belajar pemelajar. Empat cara tersebut adalah :
1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar,
2. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis pembelajaran,
3. Mengoptimalkan pemanfaatan upaya guru dalam membelajarkan pemelajar juga menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi,
4. Mengembangkan aspirasi dalam belajar.
Ada sejumlah prinsip-prinsip belajar yang harus dioptimalkan sebagai upaya memotivasi dalam belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah : prinsip perhatian, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan belajar, rangsangan dan tantangan, pemberian balikan dan penguatan, dan prinsip perbedaan individual antar pembelajar. Untuk mengoptimalkan prinsip-prinsip tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang tepat dan mengupayakan untuk menjauhkan kendala-kendala yang ditemui dalam proses optimalisasi tersebut.
Optimalisasi yang dilakukan adalah optimalisasi unsur dinamis dan optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pemelajar. Optimalisasi unsur dinamis dilaksanakan dengan cara perlunya kreativitas dalam menyiapkan alat-alat belajar bersama pemelajar. Sedangkan optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pemelajaran dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
1. Biarkan pemelajar menangkap sesuai kemampuan dan pengalamannya,
2. Kaitkan pengalaman belajar saat ini dengan pengalaman masa lalu dan kemampuan si pemelajar,
3. Lakukan penggalian pengalaman dan kemampuan yang dimiliki pembelajar,
4. Beri kesempatan pemelajar untuk membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimilikinya.
Cita-cita dan aspirasi juga penting dikembangkan sebagai upaya dalam memotivasibelajar si pemelajar. Ada tiga langkah yang perlu dilakukan, yaitu: kenalilah aspirasi dan cita-caita si pemelajar, komunikasikan hasil pengenalan tersebut kepada pemelajar dan orang tuanya, dan buatlah program-program yang dapat mengembangkan cita-cita dan aspirasi pemelajar.


III. KESIMPULAN
Motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut (Wlodkowski 1985).
Motivasi ada dua jenis, yaitu motivasi intristik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi atau dorongan yang ada pada diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Namun dorongan tersebut datang dari luar individu yang bersangkutan. Jadi orang itu dirangsang dari luar.
Secara umum terdapat dua peranan penting motivasi dalam belajar, pertama, motivasi merupakan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai satu tujuan. Kedua, motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar, sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar.
Dari berbagai teori motivasi yang berkembang John Keller (1983) telah menyusun seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang disebut dengan ARCS. ARCS merupakan singkatan dari Attention (perhatian), Relevance (relevansi), Confidence (kepercayaan diri), Satisfaction (kepuasan). Dalam proses belajar dan pembelajaran keempat kondisi motivasional tersebut sangat penting dipraktekkan untuk terus dijaga sehingga motivasi siswa terpelihara selama proses belajar dan pembelajaran berlangsung.





DAFTAR PUSTAKA
Dra. Eveline Siregar, M.Pd dan Hartini Nara, M.Si. 2007. Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta
Hamalik, Oemar, Dr. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta. PT Bumi Aksara
A.M, Sardiman. 2007. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada
http://joegolan.wordpress.com/ (diunduh pada tanggal 22 Maret 2010 pukul 07.15WIB)
http://tirman.wordpress.com/motivasi-dalam-pembelajaran/ (diunduh pada tanggal 22 Maret 2010 pukul 07.43 WIB)
http://ronawajah.wordpress.com/2007/08/03/teori-maslow-koreksi/ (diunduh pada tanggal 22 Maret 2010 pukul 07.11WIB)
http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow (diunduh pada tanggal 22 Maret 2010 pukul 07.07 WIB)

10.08.2010

Mata Kuliah Instalasi Listrik Bangunan

Hm....Instalasi Listrik Bangunan memang menarik untuk dipelajari. Ini barusan nyari tugas tentang:
1. Rumus-rumus dasar kelistrikan
2. Rumus Daya Nyata
3. PUIL (Persyaratan Umum Instalasi Listrik)

Untuk yang ke 1 dan ke 2, ini link nya: Teori Dasar Listrik

Untuk yang PUIL, buka ini aja

Bukan jebakan betmen kok, gan....suer..

10.05.2010

Tugas PTM yang Besok Dikumpul (6 Oktober 2010)


Berterimakasihlah kepada mereka, kawan...hehe

Yang merasa tebantu dengan dipostingnya tugas ini, mohon komen di kotak komentar ya...


Langsung aja nih!!!












1. Diketahui : Sebuah alat berat berupa Bulldozer D155A - 1


- Jarak hauling : 40 m

- Jenis tanah : hard to cut 0,80

- Grade (menurun) : 15% 1,19

- Berat mateial : 1600 kg loose 0,87

- Job efficiency : 45 menit/jam 0,75

- Slot dozing : 1,20

- Kecepatan : forward = 3,7 km/jam

: reverse = 8,2 km/jam

- Operator : average 0.75

Ditanyakan : Rencanakan produksi aktual alat berat tersebut

Penyelesaian :

Produksi per cycle

q = L x H2 x a = 4,13 x (1,59)2 x 0,8 = 8,50 m3

Cycle time

Kecepatan maju, F = 3,7 x 0,75 = 2,8 km/jam (46,7 m/menit)

Kecepatan kembali, R = 8,2 x 0,85 = 7,0 km/jam (116,7 m/menit)

Gear shifting

Z = 0,05 detik

Cm = 40/46,7 + 40/116,7 = 1,25 menit

Standar produksi

Q’ = 8,5 x (60/1,25)= 408 m3/jam

Faktor Koreksi

FK = 0,80 x 1,19 x 0,87 x 0,75 x 1,20 x 0,75 = 0,56

Produksi aktual

Q = Q’ x FK = 408 x 0,56 = 228,5 m3/jam loose



2. Diketahui : Sebuah alat berat berupa universal front loader

- Jarak hauling : 50 m

- Jenis tanah : hard to cut 0,85

- Grade (menurun) : 15% 1,15

- Berat mateial : 1600 kg loose 0,85

- Job efficiency : 45 menit/jam 0,75

- Slot dozing : 1,20

- Kecepatan : forward = 3,5 km/jam

: reverse = 8,5 km/jam

- Operator : average 0.75

Ditanyakan : Rencanakan produksi aktual alat berat tersebut

Penyelesaian :

Produksi per cycle

q = L x H2 x a = 4,45 x (1,60)2 x 0,8 = 9,11 m3

Cycle time

Kecepatan maju, F = 3,5 x 0,75 = 2,625 km/jam (43,75 m/menit)

Kecepatan kembali, R = 8,5 x 0,85 = 7,225 km/jam (120,42 m/menit)

Gear shifting

Z = 0,10 detik

Cm = 50/43,75 + 50/120,42= 1,66 menit

Standar produksi

Q’ = 9,0 x 60/1,66 = 325,3 m3/jam

Faktor Koreksi

FK = 0,85 x 1,15 x 0,85 x 0,75 x 1,20 x 0,75 = 0,56

Produksi aktual

Q = Q’ x FK = 325,3 x 0,56 = 182,2 m3/jam loose



3. Diketahui : Sebuah alat berat berupa Scraper tractor

- Jarak hauling : 30 m

- Jenis tanah : hard to cut 0,80

- Grade (menurun) : 15% 1,20

- Berat mateial : 1600 kg loose 0,80

- Job efficiency : 45 menit/jam 0,70

- Slot dozing : 1,20

- Kecepatan : forward = 3,7 km/jam

: reverse = 8,3 km/jam

- Operator : average 0.80

Ditanyakan : Rencanakan produksi aktual alat berat tersebut

Penyelesaian :

Produksi per cycle

q = L x H2 x a = 4,30 x (1,65)2 x 0,75 = 8,78 m3

Cycle time

Kecepatan maju, F = 3,7 x 0,75 = 2,775 km/jam (46,25 m/menit)

Kecepatan kembali, R = 8,3 x 0,85 = 7,055 km/jam (117,58 m/menit)

Gear shifting

Z = 0,05 detik

Cm = 30/46,25 + 30/117,58 = 0,95 menit

Standar produksi

Q’ = 8,5 x 60/0,95 = 536,84 m3/jam

Faktor Koreksi

FK = 0,80 x 1,20 x 0,80 x 0,70 x 1,20 x 0,80 = 0,52

Produksi aktual

Q = Q’ x FK = 536,84 x 0,52 = 279,2 m3/jam loose



4. Diketahui : Sebuah alat berat berupa Brush chopper

- Jarak hauling : 60 m

- Jenis tanah : hard to cut 0,70

- Grade (menurun) : 15% 1,00

- Berat mateial : 1600 kg loose 0,83

- Job efficiency : 45 menit/jam 0,80

- Slot dozing : 1,20

- Kecepatan : forward = 4,0 km/jam

: reverse = 8,0 km/jam

- Operator : average 0.70

Ditanyakan : Rencanakan produksi aktual alat berat tersebut

Penyelesaian :

Produksi per cycle

q = L x H2 x a = 5,13 x (1,92)2 x 0,75 = 14,18 m3

Cycle time

Kecepatan maju, F = 4,0 x 0,8 = 3,2 km/jam (53,3 m/menit)

Kecepatan kembali, R = 8,0 x 0,9 = 7,2 km/jam (120 m/menit)

Gear shifting

Z = 0,08 detik

Cm = 60/53,3 + 60/120 + 0,08 = 1,705 menit

Standar produksi

Q’ = 9,0 x 60/1,705 = 316,72 m3/jam

Faktor Koreksi

FK = 0,70 x 1,00 x 0,83 x 0,80 x 1,20 x 0,70 = 0,39

Produksi aktual

Q = Q’ x FK = 316,72 x 0,32 = 123,5 m3/jam loose

5. Diketahui : Sebuah alat berat berupa Stump extractor

- Jarak hauling :70 m

- Jenis tanah : hard to cut 0,75

- Grade (menurun) : 15% 1,10

- Berat mateial : 1600 kg loose 0,82

- Job efficiency : 45 menit/jam 0,75

- Slot dozing : 1,20

- Kecepatan : forward = 4,2 km/jam

: reverse = 8,3 km/jam

- Operator : average 0,85

Ditanyakan : Rencanakan produksi aktual alat berat tersebut

Penyelesaian :

Produksi per cycle

q = L x H2 x a = 4,82 x (2,11)2 x 0,85 = 18,16 m3

Cycle time

Kecepatan maju, F = 4,2 x 0,75 = 3,15 km/jam (52,5 m/menit)

Kecepatan kembali, R = 8,3 x 0,85 = 7,055 km/jam (117,58 m/menit)

Gear shifting

Z = 0,07 detik

Cm = 70/52,5 + 70/117,58 + 0,07 = 1,99 menit

Standar produksi

Q’ = 9,5 x 60/1,66 = 343,37 m3/jam

Faktor Koreksi

FK = 0,75 x 1,10 x 0,82 x 0,75 x 1,20 x 0,85 = 0,51

Produksi aktual

Q = Q’ x FK = 343,37 x 0,51 = 175,1 m3/jam loose



9.28.2010

Tugas Jalan Raya (Hm.....)



Langsung aja deh....cekidot!!!

PERTANYAAN

1. Jelaskan dan gambarkan fungsi bagian – bagian jalan berikut :
a. Badan Jalan
b. Lajur lalu – lintas
c. Damaja
d. Parit di tepi jalan

2.
a. Jelaskan kegunaan kemiringan melintang e dan koefisien gesek f!
b. Jelaskan mengapa di tikungan kerap diberi tebing bertingkat!

3. Tentukan Radius tikungan jalan ( R ), jika :
- Vr = 40 km/jam
- e = 4 %
- f = 32 %

4. Tentukan Radius tikungan jalan ( R ), jika :
- Vr = 80 km/jam
- e = 6 %
- f = 30 %

5. Tentukan Kecepatan rencana jalan ( Vr ), jika :
- R = 40 meter
- e = 4 %
- f = 32 %

6. Tentukan Kecepatan rencana jalan ( Vr ), jika :
- R = 60 meter
- e = 6 %
- f = 30 %

JAWABAN

1.
a. Badan Jalan : Salah satu konstruksi jalan yang mencakup bahu jalan atau diperkeras, jalur lalu – lintas , dan median (jika tersedia lahannya) dan separator.
b. Lajur lalu – lintas : Bagian dari jalur lalu – lintas yang merupakan daerah bergeraknya kendaraan. Antara tiap lajur perlu diberi marka jalan untuk mengarahkan pengguna kendaraan pada lajurnya sendiri.
c. Damaja : Merupakan singkatan dari Daerah Manfaat Jalan, yakni ruang yang dibatasi oleh lebar, tinggi, dan kedalaman ruang bebas tertentu. Damaja diukur dari tepi jalan, mencakupi bahu jalan dan parit tepi.
d. Parit di tepi jalan : Parit digunakan untuk menampung air hujan yang berasal dari jalur lalu – lintas dan bahu jalan. Parit ini dapat merupakan saluran tertutup maupun saluran terbuka, dibuat dari pasangan batu kali, ataupun pasangan beton.

2.
a. - e (kemiringan melintang ideal) : superelevation (e) digunakan untuk menentukan kecepatan masing – masing kendaraan yang melewati tikungan. Suatu sudut hanya sesuai untuk suatu kecepatan saja, jadi bukan ditentukan oleh isinya.
- f (koefisien gesek) : kekesatan / kekasaran perkerasan / koefisien gesek digunakan untuk membatasi besarnya kuat penggerak ‘P’ dalam menggerakkan kendaraan. Selain itu juga digunakan jarak henti minimum pada suatu pengereman kendaraan.
b. Adanya tebing bertingkat ditikungan bertujuan untuk menahan tanah yang berada dibelakangnya dari bahaya longsor akibat :
Benda-benda yang ada atas tanah (perkerasan & konstruksi jalan, jembatan, kendaraan, dll)
Berat tanah
Berat air (tanah)

3.
Rumus : R=〖Vr〗^2/(127(e+f) )
= 〖40 〗^2/(127 (4%+32%))
= 1600/(127(4/100+32/(100))))=1600/(127(9/25))=1600/45.72
R=34.99 meter

4.
Rumus : R=〖Vr〗^2/(127(e+f) )
= 〖80 〗^2/(127 (6%+30%))
= 6400/(127(6/100+30/(100))))=6400/(127(9/25))=6400/45.72
R=139.98 meter

5. Rumus : R=〖Vr〗^2/(127(e+f) ) dikonversikan∶Vr=√(R{127(e+f)} )
=√(40{127(4%+32%)} )
=√(40{127(9/25)} )
=√(40(45.72))=√1828.8
Vr=42.76km/jam

6. Rumus : R=〖Vr〗^2/(127(e+f) ) dikonversikan∶Vr=√(R{127(e+f)} )
=√(60{127(6%+30%)} )
=√(60{127(9/25)} )
=√(60(45.72))=√2743.2
Vr=53.37km/jam


enak kan??? hehe :)

9.24.2010

PENILAIAN ASPEK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DI LABORATORIUM-LABORATORIUM JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


HASIL DOKUMENTASI







Aku posting Tugas K3 karena teman-teman banyak yang me'request'. Sekali lagi aku ingatkan untuk TIDAK LANGSUNG mengcopy tugasku ini, silahkan ditambahkan jika ada yang kurang, dan silahkan dikurangi jika ada yang keliru.


Tugas ini aku buat dengan cara menyebar kuesioner, silahkan teman-teman buat dengan cara yang sama, atau dengan cara lain...tafaddol...(bahasa Arab, artinya silahkan..hehe)



PENILAIAN ASPEK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DI LABORATORIUM-LABORATORIUM JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA



KATA PENGANTAR

Sejala puji bagi Allah Subhana wa ta ala yang telah memberikan kita nikmat yang begitu banyak sehingga kita dapat menjalan aktivitas dengan baik tanpa kurang suatu apapun. Shalawat serta salam senantiasa selalu tercurahkan kepada Rasululloh Sholallahu alaihi wa sallam. Rasa syukur kami panjatkan karena laporan mengenai ”Penilaian Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Laboratorium-Laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta”selesai tepat waktu. Tim penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu penyelesaian laporan ini. Laporan ini berfungsi untuk mengetahui seberapa besar tingkat perhatian mahasiswa terhadap aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta.

Alhamdulillah, kuesioner ini telah selesai berikut dengan laporannya, sehingga bisa membantu pimpinan jurusan, fakultas, dan universitas untuk bisa mempertimbangkan dari hasil kuesioner tersebut yang mutlak berasal dari pernyataan para mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta. Proses kuesioner tersebut memang tidaklah terlalu sulit karena kami pertama-tama memberikan kuesioner kepada mahasiswa Teknik Sipil, lalu setelah selesai dikumpulkan datanya dan setelah dikumpulkan data tersebut diolah atau di presentasekan di masing-masing pernyataan sehingga bisa menghasilkan data-data tersebut. Mohon kiranya setelah itu proses peningkatan dan perbaikan laboratorium-laboratorium di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta bisa segera ditingkatkan.

Semoga apa-apa yang telah kami perbuat senantiasa mendapatkan ridho dari Alloh Subhana wa ta’ala, serta bermanfaat bagi kita di kemudian hari. Karena sesuatu yang baik adalah milik Allah Subhana wa ta’ala dan sesuatu yang kurang baik senantiasa tak luput dari kesalahan manusia. Mudah-mudahan hasil ini mencerminkan kita ke arah yang lebih baik lagi dan terus berusaha semampu kita untuk memberikan yang terbaik. Amin



Jakarta, 21 Februari 2010

  1. LATAR BELAKANG

Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium sangat penting dalam menunjang proses belajar mengajar di sebuah universitas. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium, yaitu melalui kuisioner yang berisikan masukan serta saran dari mahasiswa itu sendiri. Hal ini sangat diperlukan agar kedepannya aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium lebih diperhatikan. Sebaliknya pihak pimpinan sangat terbantu dengan adanya kuesioner dari mahasiswa untuk mengetahui apa saja yang menjadi kekurangan di dalam universitas itu sendiri khususnya laboratorium. Dengan dasar itu kami menyelenggarakan kuesioner tentang ”Penilaian Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Laboratorium-Laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta” yang dinilai dari pandangan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta.

Untuk meningkatkan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium secara mutlak menjadi tanggung jawab pihak pimpinan universitas, fakultas, dan jurusan akan tetapi mereka tidak bisa berbuat sendirian dan dengan adanya kuesioner ini tentu bisa diupayakan agar semua yang didapat dari kuesioner ini menjadikan bahan dan hal yang diinginkan bisa terwujud. Kuesioner ini mutlak dari hasil apa yang selama ini mahasiswa rasakan selama praktek di Laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta dan tidak ada paksaan atau sejenisnya.

Dalam pelaksanaan kuesioner tersebut para mahasiswa menyambut dengan senang hati atas diselenggarakan kuesioner ini dan sangat membantu tentang apa-apa yang dirasakan mengenai kondisi laboratorium di Jurusan Teknik Sipil. Penerapan kuesioner ini dilaksanakan secara global tanpa menerangkan nama mahasiswa yang ikut memberikan penilaian dalam kuesioner ini. Banyak hal yang didapat dari hasil kuesioner ini dan akan sangat baik jika penerapannya direalisasikan dalam waktu yang tidak lama sehingga hasilnya bisa dirasakan oleh mahasiswa.





  1. TUJUAN DAN MANFAAT

Kuesioner ini mempunyai tujuan yang sangat baik yaitu membantu Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta dalam peningkatan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) laboratoriumnya. Adapun manfaat yang didapat dari mahasiswa yaitu sebagai aspirasi yang selama ini mereka rasakan mengenai aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) laboraorium di Jurusan Teknik Sipil. Sedangkan manfaat bagi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta merupakan hal yang sangat baik agar senantiasa meningkatkan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratoriumnya menjadi lebih baik.

  1. SASARAN

Sasaran utama dari kuesioner ini adalah bagaimana cara mengetahui laboratorium mana yang aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3 sangat kurang atau yang menurut mereka perlu peningkatan dan kemajuan yang lebih baik lagi. Dengan adanya kuesioner ini diupayakan agar terciptanya hal-hal yang positif untuk membangun laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta menjadi lebih baik lagi. Sekaligus untuk mewujudkan mahasiswa yang handal di bidangnya dengan ditunjang kualitas laboratorium yang baik. Sasaran ini tertuju pada seberapa baik penilaian tentang laboraorium di Jurusan Teknik Sipil selama ini dari segi kaca mata mahasiswa Jurusan Teknik Sipil dan juga sebagai tolak ukur akan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta melalui kuesioner ini.

  1. WAKTU PELAKSANAAN

Adapun pelaksanaan kuesioner ini pada hari Senin, 22 Februari 2010.

  1. HASIL YANG DIPEROLEH

Dari hasil penelitian yang berupa kuesioner untuk mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, pernyataan yang didapat dan dirasakan oleh mahasiswa Jurusan Teknik Sipil ternyata banyak yang menyadari bahwa kualitas labotarium khususnya mengenai aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) masih sangat kurang dan hal tersebut terbukti oleh table di bawah ini yang menunjukan persentasi dari hasil kuesioner tersebut. Dari pernyatan dan makna dari setiap angka tersebut yaitu 1= Sangat Tidak Setuju, 2= Tidak Setuju, 3= Setuju, 4= Sangat Setuju. Tabel dibawah ini menunjukan hasil yang diperoleh dalam penelitian dalam bentuk kuesioner di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta dimata mahasiswa jurusan tersebut. Berikut poin-poin dalam kuesioner ini:

No

Pertanyaan

1

2

3

4

1.

Peralatan di Lab.Uji Bahan tersusun rapih, tidak berdebu, kondisi lab. bersih dan anda merasa nyaman berada di sana.

18%

62%

16%

4%

2.

Fasilitas mengenai keselamatan kerja, seperti sarung tangan, jas lab, keterangan pemakaian alat, dll di Lab.Uji Bahan lengkap.

4%

64%

28%

4%

3.

Peralatan di Lab.Komputer tersusun rapih, tidak berdebu, kondisi lab. bersih dan anda merasa nyaman berada di sana.

14%

56%

26%

4%

4.

Fasilitas mengenai keselamatan kerja, seperti sarung tangan, jas lab, keterangan pemakaian alat, dll di Lab.Komputer lengkap.

14%

62%

24%

0%

5.

Peralatan di Lab.Mekanika Tanah tersusun rapih, tidak berdebu, kondisi lab. bersih dan anda merasa nyaman berada di sana.

2%

30%

54%

14%

6.

Fasilitas mengenai keselamatan kerja, seperti sarung tangan, jas lab, keterangan pemakaian alat, dll di Lab.Mekanika Tanah lengkap.

4%

48%

46%

2%

7.

Peralatan di Lab.Baja tersusun rapih, tidak berdebu, kondisi lab. bersih dan anda merasa nyaman berada di sana.

6%

74%

14%

6%

8.

Fasilitas mengenai keselamatan kerja, seperti sarung tangan, jas lab, keterangan pemakaian alat, dll di Lab.Baja lengkap.

6%

70%

20%

4%

9.

Peralatan di Lab.Kayu tersusun rapih, tidak berdebu, kondisi lab. bersih dan anda merasa nyaman berada di sana.

8%

82%

6%

4%

10.

Fasilitas mengenai keselamatan kerja, seperti sarung tangan, jas lab, keterangan pemakaian alat, dll di Lab.Kayu lengkap.

6%

68%

22%

4%

11.

Peralatan di Lab.Batu tersusun rapih, tidak berdebu, kondisi lab. bersih dan anda merasa nyaman berada di sana.

20%

70%

10%

0%

12.

Fasilitas mengenai keselamatan kerja, seperti sarung tangan, jas lab, keterangan pemakaian alat, dll di Lab.Batu lengkap.

8%

70%

18%

4%

13.

Peralatan di Lab.Gambar tersusun rapih, tidak berdebu, kondisi lab. bersih dan anda merasa nyaman berada di sana.

16%

48%

34%

2%

14.

Fasilitas mengenai keselamatan kerja, seperti sarung tangan, jas lab, keterangan pemakaian alat, dll di Lab.Gambar lengkap.

2%

64%

34%

0%

15.

Peralatan di Lab.Plumbing tersusun rapih, tidak berdebu, kondisi lab. bersih dan anda merasa nyaman berada di sana.

8%

74%

14%

4%

16.

Fasilitas mengenai keselamatan kerja, seperti sarung tangan, jas lab, keterangan pemakaian alat, dll di Lab.Plumbing lengkap.

4%

66%

26%

4%

  1. EVALUASI

Dari presentase pada table yang berisikan kuesioner pernyataan tentang poin-poin akan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta banyak sekali yang perlu diperhatikan dan dapat dilihat dari rata-rata presentase ini lebih banyak diatas 50% di poin dengan nilai (2) hal ini mengartikan bahwa pada umumnya mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta masih merasa kurang puas akan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta.

Nilai rata-rata pada nilai (1) yang menyatakan sangat tidak setuju bernilai 8,75%, sedangkan ada juga yang menilai dengan katagori tidak setuju yang dilihat dari nilai (2) yaitu sebesar 63%. Untuk nilai dengan katagori setuju dengan nilai (3) dan berdasarkan penilaian keseluruhan koresponden menjawab sebesar 24,5% dari total kuesioner, sedangkan untuk katagori penilaian sangat setuju dengan nilai (4) dari seluruh koresponden menjawab dengan nilai 3,75%. Validitas akan nilai kuesioner ini mengimplementasikan akan dibutuhkannya peningkatan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta.

  1. PENGAMATAN

  1. Laboratorium Uji Bahan

Berdasarkan pengamatan kelompok kami, laboratorium ini memiliki beberapa kelebihan di antaranya adalah peralatan yang cukup lengkap sehingga menunjang proses belajar mengajar, dosen yang mengampu mata kuliah ini sangat disiplin sehingga mahasiswa yang akan melakukan praktek wajib memenuhi aspek keselamatan kerja, contohnya seperti menggunakan sarung tangan karet dan mengerti pemakaian alat, peralatan yang telah digunakan juga wajib dibersihkan sampai tidak ada kotoran yang melekat.

Namun laboratorium ini memiliki beberapa kekurangan, yaitu ruangan yang sempit dan kotor, terutama di sudut ruangan yang penuh dengan debu dan sisa semen. Dari sisi kenyamanan laboratorium ini juga kurang menunjang karena kipas angin yang tergantung di atas plafon sudah tidak berfungsi dengan baik.


  1. Laboratorium Komputer

Jika ditinjau dari aspek keselamatan kerja, laboratorium ini belum memenuhi karena masih banyak yang harus diperbaiki, misalnya kabel-kabel penghubung yang tidak tertata rapih, karena hal ini dapat menyebabkan konsleting. Selain itu laboratorium ini juga tidak menyediakan tabung pemadam kebakaran, karena hal ini sangat diperlukan sebagai antisipasi jika terjadi kebakaran.

Sedangkan dari aspek kesehatan kerja, laboratorium ini juaga belum memenuhi. Sebagai contoh, tidak terawatnya komputer-komputer sehingga banyak debu yang menempel, tidak hanya itu, komputer yang tersedia pun banyak sekali virus. Namun, yang menjadi kelebihan dari laboratorium ini yaitu sudah tersedianya AC sehingga mahasiswa merasa nyaman juga sudah tersedianya LCD sehingga menunjang proses belajar mengajar.


  1. Laboratorium Mekanika Tanah

Berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami, Laboratorium Mekanika Tanah sudah dapat dikatakan hampir memenuhi Standard Operational Procedure (SOP). Dikatakan demikian karena laboratorium ini memiliki peralatan praktek yang cukup lengkap dan memadai, ditambah lagi sebagian dari alat-alat tersebut masih baru, jadi setiap mahasiswa dapat melakukan praktek dengan baik. Berdasaran pengalaman di semester lalu saat melakukan Praktek Uji Bahan kami terkendala masalah peralatan yang rusak sehingga tidak mendukung saat Proses Belajar Mengajar.

Selain itu laboratorium ini juga dilengkapi dengan pendingin udara (AC) sehingga mahasiswa merasa nyaman saat praktek. Semua peralatan tertata rapih dan dalam kondisi bersih. Akan tetapi ada beberapa kekurangan dari lab. ini, yaitu letaknya yang kurang strategis karena berada di lantai dua. Hal ini menyulitkan mahasiswa untuk mengambil sampel tanah yang berada di taman (lantai dasar) dan saat membersihkan peralatan karena di lantai dua tidak terdapat sumber air. Jadi mahasiswa harus naik turun tangga dan hal ini menyita waktu dan tenaga. Di dalam laboratorium ini juga tidak tersedia rak tempat penyimpanan tas, sehingga semua tas ditumpuk jadi satu dan tergeletak di atas lantai, dan itu cukup mengganggu ketika sedang melakukan praktikum. Walaupun demikian, laboratorium ini sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan laboratorium lain yang ada di Jurusan Teknik Sipil.


  1. Laboratorium Baja

Ruangan yang menjadi satu dengan Laboratorium Kayu menjadikan laboratorium ini semakin kurang efektif jika digunakan. SOP yang menunjang aspek keselamatan kerja sudah tersedia, seperti cara pemakaian alat, tata tertib ketika melakukan praktek. Akan tetapi hal ini sering diacuhkan oleh para mahasiswa, Jika ditinjau dari aspek kesehatan kerja peralatan yang dibutuhkan masih sangat kurang, seperti masker, pelindung mata, sarung tangan, dll.


  1. Laboratorium Kayu

Laboratorium kayu ini bersebelahan dengan Laboratorium Baja sehingga ruangannya bisa dikatakan cukup luas, akan tetapi terlihat tidak terawat.

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya sarang laba-laba yang menempel di dinding-dindingnya dan di sebagian peralatan kerjanya. Keadaan ini diperparah lagi dengan minimnya ventilasi sebagai tempat sirkulasi udara dan pencahayaan. Jadi, di dalamnya ruangan menjadi gelap dan pengap. Apalagi jika sedang menggunakan mesin. Mesin ini mengeluarkan banyak asap hitam yang membuat keadaan dalam ruangan menjadi tambah pengap dan berbau. Selain itu juga ada alat pengetam kayu yang hasilnya adalah serbuk-serbuk kayu yang berterbangan yang bisa mengganggu pernafasan.

Kemudian, dalam setiap praktek laboratorium ini juga tidak menyediakan alat pengaman standar, seperti sarung tangan dan masker. Sehingga peserta praktek harus membawanya sendiri. Dan tentu saja tidak semua peserta memiliki inisiatif tersebut.

Walaupun dalam hitungan jumlah sedikit, alat kerja praktek yang ada cukup lengkap. Akan tetapi sebagian alat tidak benar-benar dirawat. Banyak yang berdebu dan disarangi laba-laba. Dan juga beberapa kabel listriknya sudah terkelupas.

Jadi, jika dilihat dari segi keselamatan dan kesehatan kerja tentu saja laboratorium kayu ini kurang layak untuk digunakan. Misalnya untuk kasus kesehatan, dengan keadaan yang seperti ini tidak jarang ada peserta praktek yang sesak nafas. Dan dari kasus keselamatan kerja misalnya ada salah satu peserta praktek yang kesetrum, walaupun dia sudah memakai alas kaki dari karet.


  1. Laboratorium Batu

Menurut pengamatan kelompok kami, laboratorium ini sangat tidak teratur penataan peralatannya, tidak hanya itu peralatan yang ada penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Peralatan seperti besi untuk tulangan/ sengkang hanya digeletakkan di atas lantai dan itu sangat menganggu. Peralatan lainnya juga sudah tidak layak pakai, misalnya water pass yang bengkok, pegangan pada sendok semen yang mudah lepas, dan tidak ada sarung tangan dari bahan kain yang diperlukan saat praktek. Selain dari penataan peralatan, aspek kesehatan pun tidak tercapai karena di dalam laboratorium ini tidak adanya sirkulasi udara yang baik.


  1. Laboratorium Gambar

Jika ditinjau dari aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) laboratorium ini hampir memenuhi karena berdasarkan pengamatan kelompok kami ruangan di laboratorium ini sudah rapih dan bersih, peralatan yang baru menjadikan laboratorium ini semakin nyaman digunakan. Namun yang menjadi kekurangan adalah laboratorium ini terlalu pengap sehingga dibutuhkan pendingin ruangan (AC) akan tetapi AC yang ada belum sesuai dengan yang kita harapkan.


  1. Laboratorium Plumbing

Berdasarkan pengamatan kelompok kami, laboratorium Plumbing belum memenuhi aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Di dalam laboratorium ini tidak tersedia SOP mengenai pemakaian alat sehingga belum memnuhi aspek keselamatan kerja. Peralatan pelindung, seperti sarung tangan cukup banyak namun sudah saatnya untuk diganti dengan yang baru.

Ruangan yang berdebu, sirkulasi udara yang tidak baik dan ruangan yang gelap menjadi nilai negatif dari laboratorium ini sehingga aspek keselamatan pun tidak tercapai.

  1. KESIMPULAN

Hasil kuesioner ini bisa menjadi acuan pimpinan jurusan, fakultas, dan universitas untuk senantiasa terus meningkatkan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, hal ini menjadi penting karena dari data presentase kuesioner ini sangat membutuhkan perhatian dan tindak lanjut dari hasil ini.

Adapun laboratorium yang aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) hampir tercapai, yaitu Lab. Mekanika Tanah. Dilihat dari hasil kuesioner menunjukkan aspek kesehatan mendapat nilai 54% dan aspek keselamatan mendapat nilai 46%. Namun secara keseluruhan poin-poin dalam kuesioner yang menyatakan tidak setuju pada poin dengan nilai (2) menyatakan rata-rata penilaian koresponden sebesar 63%, sedangkan yang menyatakan setuju pada yaitu sebesar 24,5% dilihat dari nilai keseluruhan. Sangat berbeda jauh perbandingan antara yang setuju dengan yang tidak, lebih dari dua kali lipat. Inilah yang menunjukkan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta masih sangat kurang.

  1. PENUTUP

Kesempurnaan hanya milik Allah Subhana wa ta’ala dan sesuatu yang kurang baik senantiasa tak luput dari kesalahan manusia, dengan mengucap syukur Alhamdulillah dan bersyukur akan nikmat dari Alloh Subhana wa ta’ala yang telah memberikan segalanya. Dari itu semua maka selesai pula laporan kuesioner yang berjudul ”Penilaian Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Laboratorium-Laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta” dan bisa menjadi pertimbangan dan perhatian yang harus segera dilaksanakan agar terwujud aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium-laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta.

Demikianlah laporan kuesioner ini disusun dan kiranya bisa menjadi data yang valid dari apa-apa yang dihasilkan kuesioner ini. Segala apa-apa yang kita inginkan untuk kepentingan bersama tentunya menjadi mimpi dan keinginan kita semua agar bisa terwujud dan terlaksana. Yang perlu diperhatikan adalah menemukan bagaimana caranya agar bisa memperbaiki apa yang telah terdata dari hasil kuesioner ini dan bersama-sama bisa mewujudkannya.

Hasil Dokumentasi Pengamatan



Gb.1: Situasi