Welcome

Selamat Datang di Blog Pendidikan Vokasional Konstruksi Bangunan

12.13.2015

Pengertian Pendidikan Teknologi Kejuruan



Pendidikan Teknologi Kejuruan (Technical Vocational Education and Training/ TVET) memiliki beberapa istilah di berbagai negara. Di Amerika Serikat digunakan istilah Career and Technical Education (CTE),  Vocational and Technical Education (VTE), dan di tingkat menengah disebut Career Centre (CC). Di United Kingdom dan Afrika Selatan dikenal dengan Further Education and Training (FET). Di Asia Tenggara disebut Vocational and Technical Education and Training (VTET). Sedangkan di Australia lebih dikenal dengan Vocational and Technical Education (VTE) (MacKenzie dan  Polvere, 2009).
UNESCO (2011: 4) mendefinisikan TVET sebagai aspek-aspek proses pendidikan yang tidak hanya melibatkan pendidikan umum melainkan meliputi studi teknologi, penguasaan keterampilan praktis, sikap, pemahaman dan pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaan di berbagai sektor kehidupan ekonomi. Lebih lanjut, Gasskov (2000: 5) menjelaskan bahwa vocational education and training system should deliver both foundation and specialist skills to private individuals, enabling them to find employment or launch their own business, to work productively and adapt to different technologies, tasks and conditions. Sistem TVET lebih menekankan pada keterampilan yang harus dikuasai individu, yakni beradaptasi dengan teknologi yang ada sehingga memungkinkan untuk bekerja secara produktif atau memulai untuk berwirausaha. Maclean (2009: 9) TVET is concerned with the acquisition of knowledge and skills for the world of work to increase opportunities for productive work, sustainable livelihoods, personal empowerment and socio-economic development in knowledge economies. TVET berkaitan dengan perolehan pengetahuan dan keterampilan bagi dunia kerja sehingga mampu bekerja secara produktif dan berkelanjutan, membangun individu yang berdaya, serta meningkatkan nilai sosial ekonomi negara.
Pada dasarnya TVET terdiri dari dua domain, yaitu: pendidikan teknologi dan pendidikan kejuruan/ vokasi. Sanders (2001) dalam Pavlova (2009: 5) menjelaskan bahwa konsep pendidikan teknologi adalah using technology to solve problems and satisfy needs and wants. Sedangkan konsep pendidikan kejuruan berhubungan dengan keterampilan dalam menggunakan alat dan mesin. Pavlova (2009:140) technology education is a very effective way to achieve the vocationalisation of secondary schooling and in so doing contributes signifi cantly to the aims and objectives of vocational education by increasing the employability of students. Pendidikan teknologi merupakan cara memperoleh kevokasian sehingga memberik kontribusi signifikan dalam pendidikan kejuruan. Billett (2011: 142) mendefinisikan pendidikan kejuruan sebagai cara untuk mengembangkan keterampilan sehingga mampu beradaptasi di dunia kerja, dalam istilah yang berbeda adalah pendidikan yang memiliki jenis, tujuan dan proses tertentu. Secara lebih detail perbedaan antara Pendidikan Teknologi dan Pendidikan Kejuruan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1
Perbedaan Pendidikan Teknologi dan Pendidikan Kejuruan
No.
Pendidikan Teknologi
Pendidikan Kejuruan/ Vokasi
1.
Pengetahuan Umum
Pengetahuan spesifik
2.
Pengetahuan teoritik
Pengetahuan praktis/ fungsional
3.
Pemahaman konsep
Kecakapan dalam skill
4.
Kemampuan kreatif
Kemampuan reproduktif
5.
Keterampilan intelektual
Keterampilan fisik
6.
Persiapan untuk hidup dan berkembang
Persiapan untuk bekerja
Sumber: Stevenson (2003) dalam Pavlova (2009: 5)
Tujuan pendidikan kejuruan secara filosofi terdiri dari tiga macam, yaitu: (1) Esensialisme. Tujuan TVET adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. Ditandai dengan kurikulum yang diselenggarakan berurutan, instruktur perlu  memiliki pengalaman yang berhubungan dengan industri yang luas. Sistem terpisah dari pendidikan akademis; (2) Pragmatisme. Tujuan TVET adalah untuk memenuhi kebutuhan individu untuk pemenuhan pribadi dan persiapan kehidupan. Ditandai dengan penekanan pada pemecahan masalah dan berpikir tingkat lebih tinggi-, pembelajaran dibangun dari pengetahuan sebelumnya; (3) Pragmatisme rekonstruksi. Tujuan TVET adalah untuk mengubah pekerjaan menjadi lebih demokratis, lebih proaktif, melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam masalah kerja (Rojewski, 2009: 22).
Berbedanya tujuan filosofis pendidikan kejuruan di atas lahir atas dasar perdebatan Charles Prosser dan John Dewey. Prosser memandang pendidikan vokasi dari sudut efisiensi sosial yang menempatkan posisi sekolah kejuruan sebagai wahana pemenuhan kebutuhan ketenagakerjaan suatu negara bukan untuk pemenuhan kebutuhan individu. Kubu efisiensi sosial menyiapkan pelatihan yang baik yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja. Pendidikan kejuruan diorganisir dengan urutan yang rigit dengan pemasrahan hand-on instruction oleh orang yang berpengalaman luas (Rojewski, 2009). Pemikiran inilah yang melatarbelakang madzhab esensialisme.
Bertolak belakang dari pemikiran Prosser, pemikiran Pragmatisme yang dianut oleh Dewey meyakini bahwa tujuan dasar pendidikan adalah untuk mempertemukan kebutuhan individu untuk pemenuhan pribadinya dan persiapan menjalani hidup. Siswa pendidikan kejuruan diajari bagaimana memecahkan masalah secara berbeda-beda sesuai kondisi individu masing-masing. Dewey menolak gambaran siswa sebagai individu yang pasif, dikendalikan oleh tekanan ekonomi pasar dan eksistensinya dibatasi dalam mengembangkan kapasitas intelektualnya. Dewey memandang siswa adalah aktif memburu dan mengkonstruksi pengetahuan (Rojewski, 2009: 21). 
Di Indonesia pendidikan kejuruan diselenggarakan mulai pada tingkat menengah atas, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Undang – Undang  Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 21 menyatakan bahwa pendidikan kejuruan merupakan jenjang pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Tujuan SMK ini dijabarkan pada tujuan umum dan tujuan khusus. Pada intinya, pendidikan kejuruan di Indonesia, dalam hal ini SMK bertujuan menyiapkan peserta didik agar dapat mengembangkan potensinya sehingga mampu bekerja secara profesional. Di samping itu SMK bertujuan membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan agar mampu mengembangkan diri menjadi lebih baik.

No comments:

Post a Comment